Rabu, 07 Maret 2012

NGAJI HIKAM (Rahasia Pertolongan Allah)


RAHASIA DATANGNYA PERTOLONGAN ALLAH

تَحَقَّقْ بِأَوْصَافِكَ يَمُدُّكَ بِأَوْصَافِهِ . تَحَقَّقْ بِذُلِّكَ يَمُدُّكَ بِعِزِّهِ . تَحَقَّقْ بِعَجْزِكَ يَمُدُّكَ بِقُدْرَتِهِ . تَحَقَّقْ بِضُعْفِكَ يَمُدُّكَ بِحَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ

Nyatakan dengan sifatmu maka Allah akan menolongmu dengan sifat-Nya. Nyatakan dengan hinamu maka Allah akan menolongmmu dengan kemuliaan-Nya. Nyatakan dengan lemahmu maka Allah akan menolongmu kemampuan-Nya. Nyatakan dengan keterbatassanmu maka Allah akan menolongmu dengan upaya-Nya dan kekuatan-Nya.

Pernyataan asy-Syekh Ibnu Atho’illah ra. diatas adalah konsep untuk menemukan keberhasilan hidup bagi seorang hamba yang beriman. Kunci rahasia untuk membukan pintu perbendaharaan ghaib yang tersedia bagi setiap manusia. Password untuk mengaplikasikan program kehidupan yang bertebaran di dalam amal semesta. Jika orang beriman mampu menggunakannya dengan benar maka pintu ijabah dari Tuhannya akan segera terbentang di depannya dengan penuh kemudahan.

Merupakan interaksi antara sifat dengan sifat, meskipun itu berangkat dari keadaan yang berbeda, yang satu merangkak dari bawah yang satunya diturunkan dari atas, yang satu memancar dari dimensi hadits yang satunya didatangkan dari dimensi qodim, apabila seorang hamba mampu membangun dan memancarkan isi hatinya dengan sungguh-sungguh kepada Tuhannya maka mereka akan mendapi sifat Tuhannya dengan penuh kemudahan di depan mata. Sifat Allah itu berbentuk realita sebagai jawaban dari munajat hati yang mendasari setiap pengabdian secara lahir yang dilaksanakan seorang hamba kepada Tuhannya. Allah telah mengisyaratkan keadaan tersebut dengan firman-Nya:

وَأَوْفُوا بِعَهْدِي أُوفِ بِعَهْدِكُمْ
“Dan penuhilah janjimu kepada-Ku niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu(QS.Al-Baqoroh(2);40)

Dimana saja, dari mana saja, dalam keadaan apa saja, manusia akan menemui sifat dan takdir Tuhannya sebagaimana gambaran isi hatinya saat menghadap kepada-Nya: “Maka ke manapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.(QS.Al-Baqoroh(2);115).

Dimulai dengan pelaksanaan amal ibadah, amal ibadah itu dilaksanakan oleh seorang salik dengan bersungguh-sungguh (mujahadah) di jalan-Nya sehingga amal ibadah tersebut menjadi karakter yang menjiwai hidup. Jika yang demikian itu diniatkan untuk melaksanakan pengabdian hakiki kepada Allah, Rabbul Alamiin, maka karakter alam akan disuaikan untuk dirinya. Karakter alam itu adalah perwujudan dari sifat dan takdir-Nya. Itulah buah ibadah, apabila seorang hamba mampu merubah karakternya maka karakter alam akan disesuaikan untuk kerakternya. Ini adalah konsep Ilahiyah, sebagai sunnah yang tidak ada perubahan untuk selamanya, apabila seorang hamba mampu melaksanakannya dengan sempurna, maka pintu ijabah akan dimudahkan terbuka dengan sempurna pula baginya dengan sempurna pula.

Mujahadah dalam arti meredam kemauan imosional dan rasional supaya intensitas spiritual menjadi kuat dan cemerlang. Mujahadah tersebut bisa dilaksanakan dengan amaliyah secara vertical maupun horizontal. Oleh sebab itu, mujahadah yang paling utama adalah bersyukur disaat sedang kurang dan memaafkan kesalahan orang.

Seorang hamba harus memulia dari dirinya sendiri. Membangun amal ibadah untuk menyepuh ruhaninya. Melebur kotoran manusiawi supaya jiwanya kembali bersih dan suci sebagaimana fithrahnya. Itu dilakukan bukan untuk menjadikan dirinya supaya menjadi orang yang sakti mandraguna, bukan supaya ia mempunyai linuwih sehingga ia mampu menolong kesusahan manusia, bukan untuk supaya dirinya menjadi orang yang mulia dan kaya raya sehingga dimuliakan manusia, tetapi menyiapkan hati untuk menampung anugerah yang sudah disediakan baginya sejak zaman azali.

Asy-syekh menunjukkan konsepnya, apabila orang beriman ingin mendapatkan kemuliaan dari-Nya, maka terlebih dahulu mereka harus mampu menyatakan kehinaan di hadapan-Nya. Apabila ingin mendapatkan kemampuan-Nya, maka mereka harus mampu menyatakan sifat lemahnya dihadapan-Nya. Apabila mereka mengharapkan upaya-Nya dan kekuatan-Nya, maka mereka harus mampu menyatakan keterbatasan diri di hadapan-Nya.

Untuk mencapai hal tersebut, seorang hamba harus berjalan di jalan-jalan Allah yang sudah disiapkan baginya. Mereka harus melaksanakan thoriqoh yang terbimbing oleh guru-guru ahlinya. Perjalanan itu bukan untuk menuju suatu tempat supaya di tempat itu mereka mendapatkan kekuatan dan kemuliaan, tetapi mengkondisikan isi dada supaya di dalamnya dapat ditempati kekuatan dan kemuliaan yang didatangkan dari perbendaharaan ghaib yang ada di sisi Tuhannya.

Sesuai kebutuhan yang dibutuhkan, apakah itu kemuliaan atau kemampuan, maka pengkondisian hati itu harus disesuaikan dengan kebutuhan tersebut. Merasa hina untuk menerima kemuliaan, merasa lemah untuk mendapatkan kekuatan dan merasa terbatas untuk mendapatkan kemampuan. Adapun amal ibadah yang dilakukan ibarat kendaraan, sedangkan sifat-sifat tersebut ibarat penumpang. Dengan sifat-sifat tersebut seorang hamba akan mendapatkan apa-apa yang diharapkan dalam perjalanan.

Apabila orang tidak berjalan di jalan yang sudah disiapkan. Tidak mengamalkan ilmu pengetahuan yang sudah disiapkan untuk menempa jati dirinya supaya siap untuk mendapatkan pemahaman dari Tuhannya. Mereka bahkan hanya berpangku tangan tanpa berbuat perubahan. Dalam keadaan demikian, apabila mereka mempunyai harapan untuk mendapatkan perubahan, maka harapan itu selamanya pasti akan tinggal harapan. Sampai kapanpun mereka akan menemukan dirinya seperti itu itu saja, tetap dalam keadaan yang serupa tanpa dapat menemukan perubahan untuk selama-lamanya.

Hal itu disebabkan, oleh karena mereka tidak mau berbuat perubahan, maka perubahan yang diharapkan itu akan menjadi angan-angan. Harapan itu akan menjadi seperti awan yang segera hilang disapu angin kencang bersama hilangnya usia hidup yang dimakan zaman.

Ilmu pengetahuan yang dimiliki, sebelum ilmu itu dipergunakan untuk menerangi hati dan jalan hidup orang lain, terlebih dahulu harus dapat dipergunakan untuk mengilmuni diri sendiri, menerangi prilaku hidup untuk membentuk karakternya dengan pelaksanaan mujahadah di jalan Allah, sesuai konsep yang ditawarkan Asy-Syekh tersebut di atas, hasilnya, seorang hamba akan menjumpai sifat Tuhannya sebagai jawaban dari-Nya. Itulah yang dimaksud interaksi dzikir dengan dzikir.

Apabila seorang hamba mampu melaksanakan dzikir tersebut secara sempurna, baik dzikir lahir maupun dzikir batin, berarti pertanda ia telah mencintai Tuhannya. Apabila ia mampu mengenali dzikir balik tersebut, artinya bahwa realita yang datang itu sejatinya adalah sinyal dan rambu-rambu yang didatangkan baginya untuk dapat ditindaklanjuti dengan benar, maka berarti pertanda ia telah dicintai oleh Tuhannya. Tanda-tanda berikutnya, apabila seorang hamba telah mampu mensikapi segala permasalahan hidup yang sedang dihadapi, baik yang susah maupun yang senang dengan bersyukur kepada-Nya, maka itulah pertanda yang bahwa dirinya adalah seorang hamba ynag dicintai Tuhannya. Allah telah meyatakan hal tersebut dengan firman-Nya:

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ
Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (ni`mat) -Ku.(QS.Al-Baqoroh(2);152)

NGAJI HIKAM (Hidayah Dibalik Ungkapan Hukama)


HIDAYAH DI BALIK UNGKAPAN HUKAMA


تَسْبِقُ اَنْوَارُ الْحُكَمَاءِ اَقْوَلَهُمْ فَحَيْثُ صَارَ التَنْوِيْرُ وَصَلَ التَّعْبِيْرُ

Para Ahi Hikmah terlebih dahulu memancarkan Nur Hidayah sebelum menyampaikan ungkapan. Ketika penyinaran telah sampai maka sampailah ungkapan.

Yang dimaksud dengan ungkapan itu bukan sekedar ceramah ilmiyah sebagaimana yang dilakukan para juru dakwah di panggung-panggung pengajian secara umum, tetapi mengungkapkan sesuatu yang tersembunyi dibalik keadaan yang lahir yang terbaca oleh matahati orang-orang yang jiwanya bersih suci. Ekspresi sepontan yang dilakukan oleh para guru mursyid sejati sebagai bentuk kepedulian yang ihlas dalam rangka mentarbiyah ruhani para murid yang dikasihi.
Ungkapan itu bisa dilakukan, karena sebelum ungkapan itu keluar, hati para guru mursyid sejati itu terlebih dahulu telah dipancari “nur ilahiyah”. Ibarat bumi ketika matahari telah memancarkan sinarnya maka ufuk langit menjadi terang benderang. Demikian pula keadaan hati yang bersih itu, ketika nur ilahiyah telah memancar, maka memancarlah ungkapan dari dalamnya.

Untuk melihat di alam lahir, meskipun orang mempunyai mata lahir yang sehat, tanpa sinar matahari, mata yang sehat itu tidak dapat dipergunakan untuk melihat dengan sempurna. Di alam batin juga demikian, mata batin itu disebut bashiroh atau matahati. Meskipun matahati seseorang itu sudah cemerlang, tanpa adanya nur ilahiyah yang menyinarinya, matahati yang cemerlang itu tidak dapat berfungsi untuk melihat hal yang ghaib.

Oleh karena kecemerlangan matahati para guru mursyid itu sudah mampu mengalahkan sorot mata lahirnya. Ketika dengan datangnya nur ilahiyah tersebut menjadikan matahati mereka menjadi tembus pandang sehingga mereka mampu melihat isi dada murid-muridnya. Mereka melihat penyakit rahasia yang harus disembuhkan secara rahasia pula. Untuk mengaktualisasikan maksud tujuan tersebut, maka cara yang mereka pilih adalah dengan menyampaikan i’tibar atau ungkapan. Hal itu dilakukan supaya masing-masing kebutuhan ruhani murid-muridnya dapat dicukupi melalui ungkapan tersebut. Karena tidak mungkin menyembuhkan penyakit rahasia kecuali dengan jalan rahasia pula.

Demikianlah fungsi seorang guru mursyid terhadap murid-muridnya, sehingga apa saja yang dilakukan oleh guru mursyid, sejatinya hanya untuk tujuan mentarbiyah ruhani murid-murid tersebut. Namun demikian, tanpa kemampuan seorang murid dalam mencermati dan menindaklanjuti ungkapan guru mursyidnya dengan benar, maka yang didapatkan oleh para murid dalam bertoriqoh barangkali hanya sekedar pahala amal bukan kecemerlangan matahati atau yang disebut dengan ma’rifatullah.

Yang dibutuhkan dalam bertoriqoh itu bukan hanya sekedar pahala supaya orang bisa masuk surga di akhirat. Karena jalan untuk masuk surga akhirat itu sudah jelas. Yakni apabila seorang hamba mendapat ampunan dari Allah dari segala dosa dan kesalahannya. Hal itu telah dijelaskan Allah dengan firman-Nya:

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga”(QS.Ali Imran(3)133)

Target perolehan yang harus dicapai oleh seorang salik dalam berthoriqoh bukan supaya mereka menjadi orang sakti mandra guna, atau punya kelebihan bisa membantu penyembuhan orang sakit Non Medis, melainkan supaya mendapatkan “Surga Ma’rifat” yang menurut ahlinya, merupakan kenikmatan yang lebih nikmat dibandingkan surga akhirat. Itulah surga dunia bagi orang beriman dan beramal sholeh, yakni lapangnya rongga dada karena di dalamnya telah disinari Nur Hidayah Allah sehingga apapun yang sedang terjadi dan dialami tidak menjadikan hati mereka susah dan gelisa.

Untuk mendapatkan surga ma’rifat itu, syarat yang paling utama adalah melaksanakan mujahadah di jalan Allah. Artinya dengan sadar dan penuh pemahaman, seorang hamba harus mampu mengedepankan pilihan Tuhannya daripada pilihan hatinya sendiri. Mereka menindaklanjuti isyarat yang tertangkap dari ungkapan guru mursyidnya untuk mengilmuni dirinya sendiri. Melaksanakan maksud yang tersirat dari ungkapan itu untuk menyembuhkan penyakit hatinya sendiri. Setelah seorang salik mampu melaksanakan mujahadah tersebut dengan benar, hasilnya Allah akan menurunkan hidayah baginya.

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik(QS.Al-Ankabut(29);69)

Yang dimaksud dengan “Jalan-jalan Kami” dari ayat di atas adalah jalan-jalan penyelesaian dari segala masalah hidup yang sedang dihadapi. Itu merupakan pilihan solusi yang ditawarkan Allah kepada hamba-Nya sebagai buah ibadah yang mereka jalani. Dengan pilihan solusi yang terbentang di depan mata itu menjadikan rongga dada orang yang beriman menjadi lapang sehingga mereka mampu menjalani kehidupan di dunia dengan nyaman.

Dalam kaitan mujahadah tersebut, tahap demi tahap pengembaraan ruhaniyah yang dilakukan para murid thoriqoh selalu dimulai dengan menindaklanjuti ungkapan guru mursyidnya. Mereka ibarat seorang pasien yang melaksanakan petunjuk dan resep dokternya, sehingga dalam melaksanakan mujahadah itu benar-benar terbimbing oleh ahlinya. Ketika suatu saat perjalanan tersebut mandek di tengah jalan, hal itu karena para salik itu sedang kebingungan memilih jalan yang tepat untuk dilalui, ungkapan guru mursyidnya ketika sedang bertatap muka, menjadikan perjalanan itu dilanjutkan kembali.

Demikianlah cara hidup yang ditempuh oleh komunitas orang yang berthoriqoh di jalan Allah tersebut. Secara lahir terkadang hubungan antara guru dan murid itu tidak sedemikian dekat, tetapi secara batin bahkan menyatu tidak dapat dipisahkan. Hati mereka tidak pernah terpisah meski keadaan dan tempat terpaksa harus memisahkan jasad-jasad mereka. Mereka selalu beribadah dalam kebersamaan rasa dan nuansa meski ibadah itu dilakukan di tempat yang berbeda. Itulah yang dimaksud dengan hakekat tawassul, pertalian rasa antara seorang murid kepada guru mursyidnya untuk bersama-sama menghadap kepada Tuhannya.

Hasilnya, maka diantara mereka tumbuh rasa persaudaraan yang kuat, masing-masing saling mencintai hanya semata-mata karena Allah. Yang demikian itu bukan berarti seorang murid mengkultus individukan guru mursyidnya, tetapi mencintai gurunya semata karena mencari jalan menuju ridlo Tuhannya dan sang guru menyayangi muridnya karena melaksanakan tugas tarbiyah sebagai seorang khilifah bumi zamannya. Itulah jalinan Ukhuwah Islamiyah yang sejati. Itu bisa terjadi, karena masing-masing kehidupan mereka selalui disinari nur hidayah Allah.

Apabila perjalanan amal utama itu tidak mendapatkan bimbingan guru ahlinya, ketika terjadi kebingungang di tengah jalan sehingga perjalanan salik itu menjadi mandek, inspirasi dan ilham yang masuk di dalam rongga dada mereka seringkali datang dari bisikan setan untuk menyesatkan jalan. Bisikan setan itu tidak untuk merubah arah kiblat yang asalnya barat menjadi timur, tetapi tanpa terasa tujuan ibadah itu berbelok arah. Tujuan yang asalnya mencari ridlo Allah malah terjebak untuk mencari keuntungan duniawi. Para salik itu dijerat di dalam pengakuan nafsunya sendiri sehingga mereka menjadi sombong dan merasa benar sendiri. Itulah yang dimaksud dari sebuah ungkapan: “Siapa beramal tanpa guru maka gurunya setan”.