Rabu, 17 Agustus 2011

Sedekah, rahasia kita dan Allah Ta’ala

Memberi memang bukanlah hal yang luar biasa yang dilakukan manusia. Sebagai Muslim Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita untuk berbagi kepada sesama. Tapi sudahkah kita memberi dengan niat ihklas hanya karena Allah?

Sungguh susah keihklasan dalam bersedekah itu muncul. Sering kali penyakit riya’menghantui niat kita. Kisah ini mungkin akan memberi kita inspirasi, bahwa memberi, bersedekah, sepatutnya hanya menjadi rahasia kita dan Allah semata. Hal tersebut menjauhkan kita kita dari penyakit hati berupa riya’ dan angkuh, yang akan menghilangkan pahala bersedekah kita.

***

Iram, dan adiknya, Ahmed, gembira ketika memasuki bulan Ramadhan. Bagi mereka Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk belajar mempraktekkan hal-hal yang telah mereka pelajari, tentang bagaimnana peduli dan memikirkan nasib orang lain yang tidak mampu.

Mereka berdua telah menyimpan uang mereka sepanjang tahun. Iram, yang berusia tujuh tahun, duduk di tempat tidurnya dan mengeluarkan wadah celengannya yang berisi ratusan uang koin. Ketika dibuka koin menggelinding tertutup selimut.

“Kita punya banyak uang. Ibu mengatakan kita seharusnya membantu seseorang. Ibu ingin agar uang yang kita miliki digunakan untuk membantu seseorang yang tidak mampu. ” kata Iram sambil mengumpulkan uang koin yang berjatuhan.

“Keluarkan wadah celenganmu, Ahmed” kata Iram pada kakaknya. Ahmed kemudian mengeluarkan koin dari Guci ke atas tempat tidur. “Wow Kita bisa melakukan banyak hal untuk seseorang dengan semua uang ini,” kata Ahmed sambil tersenyum. “Ini adalah waktu khusus dalam satu tahun. Aku senang kita dapat membantu orang lain..”

“Tapi kita harus melakukannya diam-diam, Ahmed, ingat kita harus memilih seseorang dan melakukan sesuatu yang sangat bagus tanpa mereka sadari hal itu dari kita.. Siapa yang harus kita pilih?” tanya Iram.

“Mari kita minta tetangga kita, Rashid, dan Fatima. Saya melihat bahwa mereka memiliki sepatu yang sudah berlubang dan rusak, “kata Ahmed.

“Itu ide yang baik. Kita bisa membeli beberapa sepatu baru untuk mereka” kata Iram.

“Mari membeli beberapa sepatu baru bagi mereka Ramadhan ini” kata Ahmed sambil tersenyum.

Iram dan Ahmed menemukan ibu mereka sibuk mencuci beberapa piring. Dia melihat anak-anaknya masuk ke dapur. “Kami ingin membantu orang miskin. Ahmed dan saya telah menabung uang kami sepanjang tahun dan kami ingin membantu Rashid dan Fatima, tetangga kami,” kata Iram pada ibunya.

Ahmed dengan kegembiraan, menyela, “Kami ingin membeli mereka beberapa sepatu.”

Mama tersenyum pada anak-anak. Dia begitu bangga terhadap mereka. “Apakah kalian ingin aku mengantar kalian toko untuk membeli sepatu?” tanya ibu. Iram dan Ahmed mengangguk. Kemudian mereka pergi ke toko sepatu.

Mereka berjalan ke toko sepatu dan masuk ke dalamIram memilih sepasang sepatu untuk Fatima. Ahmed memilih sepasang untuk Rashid. Mereka berdua sangat bangga bahwa mereka telah menabung uang mereka sehingga mereka bisa melakukan sesuatu untuk membantu orang lain.

Mereka pulang dan membungkus kotak sepatu dengan kertas cokelat polos. Mereka menunggu dengan cemas malam datang, karena malam ini mereka akan memberikan hadiah mereka.

Di luar sudah gelap. Mama mengantar anak-anak pergi untuk memberikan hadiah mereka. Setelah memakai mantel mereka berjalan diam-diam ke rumah Rashid dan Fatima.

Mama berbisik, “Baiklah, anak-anak, kita harus tenang dan melakukannya dengan sangat cepat. Ahmed, kauAnda mengetuk pintu dan kemudian kembali kesini, ke semak-semak, di mana Iram dan aku akan bersembunyi. Kita akan menyaksikan mereka datang dan menemukan hadiah mereka. “

Iram dan Mama bersembunyi, dan Ahmed berjingkat ke pintu. Dia meletakkan kedua kotak di atas teras, dan mengetuk keras. Lalu ia berlari, dan berlari, dan berlari, secepat dia bisa, ke tempat Iram dan Mama.

“Ssst,” bisik Mama. “Seseorang membuka pintu.”

Mereka mengamati Rashid dan Fatima keluar ke teras. “Lihat Ada hadiah untuk kita. Seseorang meninggalkannya di sini,” teriak Rasyid dengan gembira.

Dia dan Fatima melihat sekeliling. Sangat gelap dan mereka tidak bisa melihat siapa pun. Mereka mengambil kotak dan membawanya masuk.

Setelah satu atau dua menit, menunggu untuk memastikan mereka tidak akan terlihat, Momma, Ahmed, dan Iram, menyelinap diam-diam kembali ke rumah mereka. Dan dengan bersemangat menceritakan kepada ayah mereka.

“Mereka tidak melihat kami, Pappa. Mereka tidak tahu bahwa hadiah itu dari kita”.

Mama dan Pappa berdiri kembali dan memandang anak-anak mereka. Mereka begitu bangga terhadap mereka. Mereka tahu anak-anak mereka tahu arti sebenarnya dari sebuah pengorbanan.

Keesokan paginya, seperti Momma, Pappa, Iram, dan Ahmed pergi ke mobil mereka untuk melaju ke kota, mereka melihat Rashid dan Fatima bermain di luar. Mereka berdua mengenakan sepatu baru mereka. Tidak ada yang mengatakan sesuatu. Iram dan Ahmed hanya tersenyum. Itu adalah Ramadhan terbaik yang mereka miliki.

***

Kisah diatas adalah sekelumit kisah tentang anak manusia yang begitu ingin merasakan ‘nikmat’ memberi. Ketika tangan kanan di atas, mereka berusaha menyembunyikan agar tangan kirinya tak mengetahui hal tersebut. Mari kita berkaca pada diri kita. Sudah kah kita melakukan hal demikian. Melakukan kebaikan tapi tetap berharap agar tak seorangpun yang mengetahuinya selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Menanamkan sikap suka bersedekah hendaklah ditanamkan semenjak dini. dengan demikian anak-anak kita kelak tidak tumbuh menjadi generasi yang kikir dan terlalu mencintai harta. Serta menjadi generasi yang peduli pada lingkungan sekitar, bukan generasi yang egois dan sibuk mengumpulkan harta dunia untuk kepentingan diri sendiri,

Semoga Ramadhan ini akan menjadi bulan pembelajaran bagi kita untuk menjadi ahli sedekah sehingga kelak Allah Subhanahu wa Ta’ala mengumpulkan kita bersama orang-orang yang senang bersedekah dengan hanya mengharap ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sabtu, 09 April 2011

LUASNYA AMPUNAN ALLOH

Siapakah di antara kita yang belum pernah terjerumus dalam gelapnya dosa dan maksiat??? Seluruh manusia tidak akan terlepas dari dosa dan kesalahan, bagaimanapun tinggi kedudukannya. Nabi Adam ‘alaihi salam telah melakukan dosa, anak keturunannya pun juga akan mengikutinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bercerita tentang kisah Nabi Adam, beliau mengatakan, “Adam telah melanggar larangan Allah, maka anak keturunannya pun juga akan melanggar larangan Allah. Adam telah lupa, maka anak keturunannya pun juga akan lupa. Adam telah berbuat dosa, maka anak keturunannya pun juga berbuat dosa” (HR. Tirmidzi, hasan shahih).

Bisikan syaitan senantiasa dihembus-hembuskan di telinga anak Adam. Jeratan syubhat dan rayuan syahwat senantiasa membayangi setiap langkah kehidupan manusia. Hingga tidak akan ada sosok manusia yang suci dari dosa dan kesalahan. Dosa sudah menjadi watak dan tabiat manusia, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, seandainya kalian tidak pernah berbuat dosa, niscaya Allah akan mengganti kalian dengan mendatangkan suatu kaum yang kemudian kaum tersebut berbuat dosa, kemudian mereka meminta ampun kepada Allah, dan Allah akan mengampuni mereka” (HR. Muslim).

Wahai, Hamba Allah… Kesempatan itu Masih Ada…

Salah satu bukti kasih sayang Allah Ta’ala kepada hamba-Nya, Allah membuka pintu ampunan dan taubat bagi seluruh hamba-Nya. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah, wahai para hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri-diri mereka sendiri, janganlah kalian putus asa terhadap rahmat dari Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni seluruh dosa, sungguh Dialah Dzat Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Az Zumar : 53).

Allah Ta’ala mengampuni setiap dosa seorang hamba, jika hamba tersebut bertaubat kepada Allah, dengan taubat yang hakiki. Bahkan, Allah Ta’ala mengampuni dosa yang paling besar sekalipun, yaitu dosa syirik, selama orang tersebut ikhlas bertaubat kepada Allah. Bukankah para Sahabat radhiyallahu ‘anhum, dahulunya adalah orang-orang yang tenggelam dalam lumpur kemusyrikan, tenggelam dalam kubangan dosa dan kemaksiatan. Namun, dengan sebab taubat mereka Allah Ta’ala pun mengangkat kedudukan mereka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda dalam hadits qudsy, Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Wahai para hamba-Ku, sesungguhnya kalian berbuat dosa di siang dan malam hari, dan Aku akan mengampuni seluruh dosa, maka minta ampunlah kepada-Ku, niscaya akan Aku ampuni dosa-dosa kalian” (HR. Muslim).

Sebaik-baik manusia bukanlah manusia yang suci dan bersih dari dosa dan kesalahan, karena memang tidak ada orang yang bisa demikian. Lihatlah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Setiap anak Adam pasti sering melakukan dosa dan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah orang yang rajin bertaubat”. (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, hasan)

Tidak terbayangkan bagaimana keadaan bumi ini, seandainya Allah Ta’ala membalas setiap dosa yang diperbuat oleh manusia saat ini dengan hukuman secara langsung dari-Nya. Sebagaimana Allah telah menenggelamkan kaumnya Nabi Nuh ‘alaihissalam. Demikian pula Allah telah kirimkan angin kepada kaum ‘Aad, sebagaimana pula Allah telah balikkan bumi ini dan Allah kirimkan bebatuan kepada kaum Nabi Luth ‘alaihissalam. Sungguh, betapa besar kasih sayang Allah Ta’ala kepada umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Bersegera dalam Bertaubat

Salah satu tipu daya Iblis kepada Bani Adam adalah dengan menjadikan dosa yang dilakukan seolah-olah adalah kecil dan remeh. Akhirnya, hal itu membuat manusia menunda-nunda taubatnya kepada Allah Ta’ala. Ketahuilah, wahai hamba Allah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabada, “Sesungguhnya seorang hamba, ketika berbuat dosa, maka pada hatinya akan tertinggal setitik noda hitam, jika dia bertaubat dari dosanya, maka hatinya akan dibersihkan dari noda hitam tersebut, namun apabila dia terus menambah dosanya, maka noda hitam tersebut pun semakin bertambah, demikianlah Allah Ta’ala firmankan : “Sekali-kali tidak, bahkan apa yang mereka lakukan tersebut akan menutupi hatinya (surat Al Muthafifin : 14)” (HR. Tirmidzi, dari Sahabat Abu Hurairah).

Semakin bertumpuk dosa yang dia lakukan, seiring dengan itu akan semakin gelap hatinya, hingga hatinya menjumpai kebinasaan. Inilah sebesar-besar kecelakaan dan musibah, wal ‘iyadzubillah! Apabila hatinya sudah binasa, apa lagi yang bisa diharapkan dari kehidupan ini??? Sedangkan kehidupan yang hakiki tidak lain adalah kehidupan hati. Nas’alullaha al ‘afiyah…
Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Bersegeralah menuju ampunan dari Rabb kalian dan menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang dipersiapkan bagi orang-orang yang beriman” (QS. Ali ‘Imran : 133).

Wahai hamba Allah, bersegeralah dalam bertaubat sebelum Allah mendatangkan adzab yang di kala itu taubat seorang hamba tidak diterima lagi. Berlarilah… menuju Allah sebelum Allah Ta’ala menerbitkan matahari dari arah barat (baca: kiamat). Ingatlah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barang siapa yang bertaubat sebelum matahari terbit dari arah barat, maka Allah akan menerima taubatnya” (HR. Muslim). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun telah bersabda, “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla, akan menerima taubat seorang hamba selama nyawanya belum sampai ke kerongkongannya (baca: sakaratul maut)” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Hasan).

Jujurlah dalam Bertaubat…

Taubat memiliki syarat-syarat. Setidaknya ada tiga syarat taubat jika dosa tersebut berupa pelanggaran terhadap hak Allah Ta’ala. Pertama: Seseorang dikatakan bertaubat dari sebuah dosa jika dia berhenti mengerjakannya. Kedua: Taubat tidak akan pernah ada tanpa diawali dengan rasa penyesalan. Seandainya seorang yang bertaubat tidak menyesali dosa yang dia lakukan, maka hal ini menunjukkan bahwa dirinya ridha dan menikmati dosa tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Penyesalan adalah taubat” (HR. Ibnu Majah, Shahih). Ketiga : Bertekad kuat untuk tidak mengulangi dosa tersebut pada kesempatan yang lain. Seluruh persyaratan ini sangat memerlukan keikhlasan dan kejujuran dalam bertaubat.

Lihatlah Orang-orang Sholeh Terdahulu…

Sungguh betapa sombongnya diri kita, seandainya kita enggan memohon ampun kepada Allah Ta’ala. Orang-orang sholeh terdahulu adalah orang yang selalu membasahi lisan mereka dengan istighfar.

Lihatlah kepada penghulu orang sholeh, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, manusia yang paling bertaqwa kepada Allah, manusia yang telah diampuni dosanya, baik yang telah lalu atau yang akan datang, manusia yang telah dijanjikan kepadanya surga dengan berbagai kenikmatannya. Namun bersama dengan itu, beliau adalah manusia yang senantiasa memohon ampunan kepada-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Allah, sesungguhnya aku meminta ampun kepada Allah dan aku bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih dari 70 kali” (HR. Bukhari dari Sahabat Abu Hurairah).

Siapakah di antara kita yang tidak mengenal Abu Bakr As Shiddiq radhiyallahu ‘anhu? Manusia terbaik setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan segenap kebesaran yang dmilikinya, beliau mengatakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam “Wahai Rasulullah, ajarkan kepada diriku sebuah doa, yang doa tersebut akan aku baca dalam setiap sholatku”, Rasulullah mengatakan, ”Katakanlah, Allahuma inni dzolamtu nafsi dzulman kabiran laa yaghfiru dzunuba illa anta, faghfirli maghfiratan min ‘indika, innaka anta alghafur ar rahim” (Ya Allah, sungguh aku telah mendzolimi diriku sendiri, dengan kedzaliman yang sangat besar, tidak ada yang bisa mengampuni diriku melainkan Engkau, maka ampunilah diriku dengan ampunan dari sisi-Mu, dan sayangilah diriku, sungguh Engkau adalah Dzat yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang) (HR. Bukhari-Muslim).

Lantas di manakah posisi diri kita jika dibandingkan dengan beliau-beliau?? Apakah kita merasa lebih baik dari pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga para Sahabat?! Hanya kepada Allah kita memohon taufik dan hidayah…

Namun, Janganlah Kita Lupa…

Saudaraku, dengan membaca risalah singkat ini, bukan berarti kita boleh meremehkan dosa dan pelanggaran kepada aturan-aturan Allah. Sampai-sampai sering kita mendengar kalimat “Aahh gak papa berbuat dosa, nanti juga akan diampuni kok…, Allah kan Maha Pengampun…?!!”. Lupakah kita dengan firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Ketahuilah, sesungguhnya Allah Maha Keras Siksaannya dan (ketahuilah) bahwa Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.” (QS. Al Maidah : 98)

Allah Ta’ala adalah Dzat yang Maha Pengampun dan Penyayang bagi orang yang bertaubat dan kembali kepada-Nya dengan ikhlas dan tulus. Kita wajib meyakini hal ini dengan keyakinan yang kokoh. Namun jangan sampai lupakan, bahwa Allah Ta’ala adalah Dzat yang Maha Keras siksaan-Nya bagi orang-orang yang mendurhakai Allah Ta’ala.

Dengan berbekal keyakinan inilah, niscaya akan tumbuh rasa takut dalam hati seorang hamba. Rasa takut terhadap siksaan dan ancaman dari Allah. Dan akan berkembang rasa harapan terhadap janji ampunan dan pahala dari Allah (Lihat Taisir Karimirrahman)

Hasan Al Bashri rahimahullahu pernah berkata, “Sungguh sifat seorang mukmin adalah mengumpulkan antara amalan baik (sholeh) dan rasa takut (kepada Allah Ta’ala seandainya amalan tersebut tidak diterima), sedangkan sifat orang munafik adalah mengumpulkan antara amalah buruk (kemaksiatan) dan rasa aman (dari siksa dan ancaman Allah)” (dikutip dari Tsamaratul Ilmi Al Amalu karya Syaikh Abdurrazzaq al-Badr)

“Ya Rabb kami, sungguh kami telah mendzolimi diri kami, seandainya Engkau tidak mengampuni dan menyayangi kami, maka sungguh kami pasti menjadi orang-orang yang merugi” Wa shallallahu ‘ala Nabiyina Muhammad wa ‘ala aalihi wa shohbihi wa sallam… [Hanif Nur Fauzi]