Menggali Makna Hakiki dari Hijrah Rasulullah
Hijrah berasal dari kata hajaro yang berarti meninggalkan. Secara istilah; kata hijrah digunakan untuk aktifitas meninggalkan perbuatan tertentu, seseorang, ataupun meninggalkan negeri kafir menuju negri Islam sebagai bentuk mendekatkan diri kepada-Nya.
Kronologi Hijrahnya Rosululloh Shallallahu Alaihi wa Sallam
Ketika permusuhan dan penyiksaan kaum musyrikin Mekkah terhadap umat Islam semakin kuat, maka Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mengizinkan para Sahabat untuk berhijrah dari Mekkah (yang saat itu merupakan darul kufur) ke Yatsrib/Madinah (yang kemudian menjadi Darul Islam). Sementara Rosululloh Shallallahu Alaihi wa Sallam sendiri tetap tinggal di Mekkah menunggu izin dari Alloh Shallallahu Alaihi wa Sallam . Kaum Muslimin pun berangsur-angsur meninggalkan Mekkah sampai tak ada yang tertinggal kecuali Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam , Abu Bakar, ‘Ali, para tahanan, orang yang sakit dan orang yang tak mampu. Ketika itu orang-orang musyirk Mekkah menyadari bahwa peristiwa hijrah ini akan membahayakan mereka. Maka dari itu parlemen musyrikin Mekkah, “Dárun Nadwah” pada pagi hari membuat keputusan keji untuk membunuh Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam . Namun, sebelum hal itu terjadi turunlah malaikat Jibril membawa wahyu rabb-Nya untuk memberitahukan kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam perihal persekongkolan jahat kaum musyrikin tersebut sekaligus mengabarkan sudah adanya izin dari Alloh Subhanahu wa Ta'ala kepada beliau untuk hijrah meninggalkan Mekkah. Kemudian Jibril menentukan moment hijrah tersebut seraya berkata:“Malam ini kamu jangan tidur di tempat yang seperti biasa.” (Shahih Bukhori, Bab: Hijratin Nabi wa ash-habihi, I/553).
Dalam keadaan terancam seperti ini, di siang hari yang sangat panas tak peduli dengan terik matahari yang begitu menyengat, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menutup wajahnya dan segera berangkat menuju kediaman Abu Bakar as-Sidiq untuk bersama-sama menyepakati tahapan hijrah. Abu Bakar Radhiyallahu anhu yang mengetahui kedatangan Rosululloh Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata dengan penuh keheranan, “Demi Alloh..!! beliau tidak datang di waktu-waktu seperti ini kecuali karena ada hal yang sangat penting.”
Rosululloh Shallallahu Alaihi wa Sallam menceritakan kepada Abu Bakar Radhiyallahu Anhu perihal wahyu yang baru saja diterimanya. Kemudian beliau mengajak Abu Bakar Radhiyallahu Anhu untuk berhijrah bersama sekaligus membahas kesepakatan hijrah tersebut. Setelah disepakati rencana hijrah tersebut, Rosululloh Shallallahu Alaihi wa Sallam pulang ke rumahnya menunggu datangnya malam.
Pengepungan Rumah Rosululloh Shallallahu Alaihi wa Sallam
Setelah di pagi hari Parlemen Mekkah “Darun Nadwah” membuat kesepakatan untuk membunuh Rosululloh Shallallahu Alaihi wa Sallam , langsung pada siang harinya musyrikin Quraisy itu mempersiapkan diri guna melaksanakan rencana yang telah disepakati. Untuk eksekusi pembunuhan tersebut, dipilihlah sebelas orang pemuka mereka, yaitu:
1. Abu Jahal bin Hisyam
2. Al-Hakam bin Abil Ash
3. Uqbah bin Abi Mu’ith
4. An-Nadlar bin al-Harits
5. Umayyah bin Khalaf
6. Zam’ah bin al-Aswad
7. Tha’imah bin Adi
8. Abu Lahab
9. Ubay bin Khalaf
10. Nabih bin al-Hajjaj dan
11. Munabbih bin al-Hajjaj
Ibnu Ishaq mengisahkan, “Tatkala malam telah gelap, kesebelas orang kafir itu pun berkumpul di depan pintu rumah Rosululloh Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk mengintai kapan beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam bangun sehingga mereka dapat menyergap dan membunuhnya.” (Siroh Ibnu Hisyam, hlm. 482).
Mereka melakukan pengintaian di malam tersebut dengan penuh kewaspadaan seraya menunggu datangnya waktu tengah malam, dikarenakan Rosululloh Shallallahu Alaihi wa Sallam biasa bangun dan keluar rumah pada tengah malam untuk solat di Masjidil Haram.
Sekalipun persiapan yang dilakukan oleh kaum Quraisy untuk melaksanakan rencana keji tersebut sedemikian rapihnya, namun mereka mengalami kegagalan total. Sehebat apapun rencana yang dibuat oleh orang-orang kafir, ketetapan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, jauh lebih sempurna.
Alloh Subhanahu wa Ta'ala menghendaki agar di malam itu Rosululloh Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak tidur di tempat biasa, sehingga beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan kepada Ali bin Abi Tholib Radhiyallahu Anhu untuk tidur di tempat tidurnya sekaligus berselimut dengan burdah hijau dari Hadramaut miliknya Shallallahu Alaihi wa Sallam. Ketika ‘Ali sudah tidur di ranjang Rosul, maka Rosululloh Shallallahu Alaihi wa Sallam pun keluar rumah dan menembus barisan kepungan orang-orang kafir Quraisy sambil membaca al-Qur’an surat Yasin: 1-9. Beliau kemudian mengambil segenggam tanah (debu) lalu melemparkan tanah itu ke kepala mereka, tidak ada seorangpun yang terlewatkan, semuanya beliau taburi tanah atau pasir dari al-Batha’. Saat itulah Alloh Subhanahu wa Ta'ala mencabut pandangan mereka untuk sementara, sehingga mereka tidak bisa melihat pergerakan Rosululloh Shallallahu Alaihi wa Sallam dan tidak menyadari keluarnya beliau dari rumah, dan dikarenakan peristiwa inilah, maka Alloh Subhanahu wa Ta'ala menurunkan al-Qur’an surat al-Anfaal: 30.
Rosululloh Shallallahu Alaihi wa Sallam memanfaatkan kesempatan tersebut untuk segera pergi menuju kediaman Abu Bakar Radhiyallahu Anhu, kemudian belaiu bersama Abu Bakar Radhiyallahu Anhu pun segera pergi berhijrah meninggalkan kota Makkah sebelum fajar tiba. Kejadian ini berlangsung pada tanggal 27 safar tahun 14 kenabian, Beliau beserta Abu Bakar pergi menuju Goa Tsur sebagai tempat persembunyian sementara dan mereka berdua singgah di dalamnya selama tiga hari. Adapun di saat yang sama orang-orang kafir itu masih terus memantau rumah rasul hingga menjelang tengah malam. Namun usaha mereka sia-sia belaka, mereka tidak juga melihat Rosululloh Shallallahu Alaihi wa Sallam keluar dari rumah. Akhirnya, mereka penasaran dan mengintip ke dalam rumah Rosululloh Shallallahu Alaihi wa Sallam . Mereka melihat seseorang yang sedang tidur dan menyangka bahwa itu adalah Rosululloh Shallallahu Alaihi wa Sallam , padahal ia adalah ‘Ali bin Abi Tholib Radhiyallahu Anhu. Mereka berkata: “Demi Alloh! Sesunngguhnya itu adalah Muhammad yang sedang tidur dan masih memakai burdahnya”.
Mereka pun tetap menunggu hingga pagi hari sampai ‘Ali Radhiyallahu Anhu bangun dari tidurnya, melihat hal itu merekapun langsung menangkap ‘Ali Radhiyallahu Anhu yang mereka kira adalah Muhammad, ternyata mereka salah dan telah tertipu. Mereka akhirnya bertanya kepada ‘Ali Radhiyallahu Anhu perihal Rosululloh Shallallahu Alaihi wa Sallam , ‘Ali Radhiyallahu Anhu menjawab: “Aku tidak mengetahui tentangnya (kemana perginya). (lihat Sofiyurrahman al-Mubarokfuri, Rohiqul Makhtum).
Ketika kafirin Qurasiy menyadari Rosululloh Shallallahu Alaihi wa Sallam telah pergi, merekapun mencarinya ke seluruh pelosok kota Makkah, mengirim utusan untuk mencari sepanjang jalan, bahkan diiklankan dengan bayaran 100 ekor Unta bagi yang dapat menemukan Muhammad, hidup atau mati. (lihat ibnu al-Qayyim, Zaadul Ma’ad, jilid 3, hal. 54).
Faidah Siroh: Dari penggalan kisah ini kita bisa melihat betapa beratnya perjuangan dan pengorbanan Rosululloh dan sahabatnya dalam menghadapi permusuhan kaum musyrikin yang sangat dahsyat, dan momentum hijrah ini adalah awal kebangkitan Islam Sejati setelah selama 13 tahun Islam mengalami masa ghurbah (keterasingan) dan ditindas secara zalim oleh musyrikin Makkah.Hijrah adalah titik awal berdirinya Negara Islam pertama di Madinah, yang berarti peralihan dari masyarakat jahiliyah menuju masyarakat Islami. Dan kenyataan-kenyataan tersebut bisa kita lihat pada kisah-kisah Sirah Nabawiyah selanjutnya yang insya Alloh akan dibahas pada edisi berikutnya.
Pesantren Kader Ulama Yayasan Cakra Panatagama Indonesia (YCPI) Jawa Barat
Sabtu, 09 April 2011
KEDUDUKAN TAUHID
KEDUDUKAN TAUHID
إِنَّ الْحَمْدَ ِللهِ، نَحْمَدَهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ .
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا.
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.
فإنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحَْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ
Tentang keagungan dan keutamaannya yang besar, dapat kita selami dari penjelasan berikut:
1. Tauhid merupakan tujuan penciptaan manusia.
AllohSubhanahu Wata’alaberfirman, yang artinya :
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku saja.”(QS. adz-Dzariyat [51]: 56)
2. Alam semesta tegak di atas tauhid.
AllohSubhanahu Wata’alaberfirman, yang artinya :
“Sekiranya ada di langit dan di bumi ilah-ilah selain Alloh, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Alloh yang mempunyai ‘arsy (singgasana) dari apa yang mereka sifatkan.”(QS. al-Anbiyâ’[21]: 22)
3. Siapa yang berbuat syirik dan meninggalkantauhid, maka akan kekal di neraka.
AllohSubhanahu Wata’alaberfirman, yang artinya :
“Sesungguhnya siapa yang mempersekutukan sesuatu dengan Alloh, niscaya Alloh mengharamkan baginya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zholim itu seorang penolong pun.” (QS. al-Mâ’idah [5]: 72)
4. AllohSubhanahu Wata’ala tidak mengampuni dosa syirik, bila pelakunya mati sebelum bertaubat.
“Sesungguhnya Alloh tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Alloh, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. an-Nisâ’ [4]: 48)
5. Siapa yang memegang tauhid dan tidak berbuat syirik, pada akhirnya akan masuk surga, sebesar apapun dosanya.
RosulullohShallallahu ‘Alaihi Wasallambersabda:
“Seorang laki-laki dari umatku dipanggil di hadapan para makhluk pada hari kiamat.Kemudian ditampakkan kepadanya sembilan puluh sembilan lembar catatan(amal perbuatan). Setiap lembarnya sejauh mata memandang. Kemudian dikatakan padanya: ‘Apakah engkau mengingkari ini?’. Ia berkata: ‘Tidak, wahai Robb!’. Lalu dikatakan: ‘Apakah engkau memiliki suatu kebaikan?’. Maka laki-laki itupun tertunduk karena haibah(keagungan Alloh) sambil berkata: ‘Tidak wahai Robb!’. Maka dikatakan: ‘Tidak demikian. Karena engkau masih memiliki kebaikan di sisi Kami, dan kamu tidak akan dizholimi!’. Maka dikeluarkan untuknya sebuah bithoqoh(kartu amal) yang di dalamnya ada kesaksian ‘Asyhadu an Lâ Ilâha illallohwa Asyhadu anna Muhammadar RosûlullohShallallahu ‘Alaihi Wasallam. Maka orang itu berkata: ‘Wahai Robbku, apakah artinya bhitoqohseperti ini?’. Maka dikatakan kepadanya: ‘Kamu pada hari ini tidak akan dizholimi.’ Kemudian sembilan puluh sembilan lembar catatan tersebut diletakkan dalam satu sisi timbangan dan dalam sisi yang lain, maka bhitoqohitupun lebih berat.” (HR. Tirmidzi dan Hâkim)
6. Tauhid merupakan sebab utama terhapusnya dosa-dosa.
Dalam hadits Qudsi, Alloh Subhanahu Wata’ala berfirman:
((يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ اْلأَرْضِ خَطاَياَ ثُمَّ لَقِيْتَنِي لاَ تُشْرِكْ بِي شَيْئاً لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً))
“Wahai anak cucu Adam, seandainya engkau datang menemui-Ku dengan membawa kesalahan (dosa) sepenuh bumi namun dalam keadaan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatupun (tidak syirik kepada-Ku), niscaya Aku akan menemuimu dengan membawa magfiroh (ampunan) sepenuh bumi pula!” (HR. Tirmidzi)
7. Barangsiapa yang tauhidnya tidak tercemar dengan kesyirikan sedikitpun maka dia termasuk orang-orang yang mendapat hidayah dan keamanan dari AllohSubhanahu Wata’ala. Allah Subhanahu Wata’ala Berfirman :
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencemari keimanan mereka dengan kesyirikan, mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan hidayah.”(QS. al-An'am [6]: 82)
8. Tauhid adalah hak Alloh Subhanahu Wata’ala yang paling besar.
Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallampernah bersabda kepada Mu’adz bin JabalRadhiyallahu ‘Anhu :
(( يَا مُعَاذُ أتَدْرِي ما حَقُّ اللهِ عَلَى العِبَادِ وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ حَقُّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا، وَحَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ أَنْ لاَ يُعَذِّبَ مَنْ لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا ))
“Wahai Muadz, tahukah engkau, apakah hak Alloh atas para hamba-Nya dan apa hak para hamba atas Alloh?' Maka Mu’adz menjawab: ‘Alloh dan Rosul-Nya yang lebih tahu.’ Lalu beliau bersabda: ‘Hak Alloh atas para hamba-Nya adalah hendaknya mereka menyembah kepada-Nya semata dan tidak menyekutukan-Nya, sedangkan hak para hamba terhadap Alloh adalah bahwa Dia tidak akan menyiksa siapa saja yang tidak menyekutukan-Nya’.” (HR. Bukhori dan Muslim)
-Yang pertama kali diserukan para nabi kepada kaumnya adalah tauhid.
Alloh Subhanahu Wata’ala berfirman:
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rosul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Alloh (saja), dan jauhilah Thoghut itu’…” (QS. an-Nahl [16]: 36)
-Tentang Nabi Nuh ‘Alaihi Salam,Alloh Subhanahu Wata’ala berfirman:
“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: "Wahai kaumku sembahlah Alloh, sekali-kali tidak ada ilah bagi kalian selain-Nya." Sesungguhnya aku takut jika kalian ditimpa adzab pada hari yang besar (kiamat).” (QS. al-A’rof [7]: 59)
Demikian pula para nabi dan rosul-Nya yang lain, yang pertama kali mereka serukan adalah tauhid.
أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah Kedua
إِنَّ الْحَمْدَلِلَّهِ، نَحْمَدَهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئاَتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
Dari paparan di atas, sangat jelas sekali demikian agung dan pentingnya kedudukan tauhid dalam Islam dan demikian sangat berbahaya pelanggarannya, yaitu syirik. Bahkan seluruh ritual peribadatan dalam Islam adalah realisasi dari tauhid itu sendiri, dan tujuannya pun harus tauhid!
Jika tidak demikian, maka sia-sialah seluruh peribadatan tersebut! Na’udzubillah!
Demikianlah khutbah pada kesempatan hari ini. Mudah-mudahan kita bisa mengambil manfaatnya dan mampu meninggalkan dunia sihir yang sarat penuh dengan kekufuran dan kesyirikan kepada Alloh Subhanahu Wata’ala .
إنّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِي يَأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَّجِيْدٌ وَ بَارِكْ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَّجِيْدٌ
رَبَّناَ اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْواَنِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِي قُلُوْبِنَا غِلاَّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ
رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَآ إِن نَّسِينَآ أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَآ إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَطَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَآ أَنتَ مَوْلاَنَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
وَآخِرُ دَعْوَانَا الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
إِنَّ الْحَمْدَ ِللهِ، نَحْمَدَهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ .
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا.
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.
فإنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحَْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ
Tentang keagungan dan keutamaannya yang besar, dapat kita selami dari penjelasan berikut:
1. Tauhid merupakan tujuan penciptaan manusia.
AllohSubhanahu Wata’alaberfirman, yang artinya :
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku saja.”(QS. adz-Dzariyat [51]: 56)
2. Alam semesta tegak di atas tauhid.
AllohSubhanahu Wata’alaberfirman, yang artinya :
“Sekiranya ada di langit dan di bumi ilah-ilah selain Alloh, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Alloh yang mempunyai ‘arsy (singgasana) dari apa yang mereka sifatkan.”(QS. al-Anbiyâ’[21]: 22)
3. Siapa yang berbuat syirik dan meninggalkantauhid, maka akan kekal di neraka.
AllohSubhanahu Wata’alaberfirman, yang artinya :
“Sesungguhnya siapa yang mempersekutukan sesuatu dengan Alloh, niscaya Alloh mengharamkan baginya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zholim itu seorang penolong pun.” (QS. al-Mâ’idah [5]: 72)
4. AllohSubhanahu Wata’ala tidak mengampuni dosa syirik, bila pelakunya mati sebelum bertaubat.
“Sesungguhnya Alloh tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Alloh, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. an-Nisâ’ [4]: 48)
5. Siapa yang memegang tauhid dan tidak berbuat syirik, pada akhirnya akan masuk surga, sebesar apapun dosanya.
RosulullohShallallahu ‘Alaihi Wasallambersabda:
“Seorang laki-laki dari umatku dipanggil di hadapan para makhluk pada hari kiamat.Kemudian ditampakkan kepadanya sembilan puluh sembilan lembar catatan(amal perbuatan). Setiap lembarnya sejauh mata memandang. Kemudian dikatakan padanya: ‘Apakah engkau mengingkari ini?’. Ia berkata: ‘Tidak, wahai Robb!’. Lalu dikatakan: ‘Apakah engkau memiliki suatu kebaikan?’. Maka laki-laki itupun tertunduk karena haibah(keagungan Alloh) sambil berkata: ‘Tidak wahai Robb!’. Maka dikatakan: ‘Tidak demikian. Karena engkau masih memiliki kebaikan di sisi Kami, dan kamu tidak akan dizholimi!’. Maka dikeluarkan untuknya sebuah bithoqoh(kartu amal) yang di dalamnya ada kesaksian ‘Asyhadu an Lâ Ilâha illallohwa Asyhadu anna Muhammadar RosûlullohShallallahu ‘Alaihi Wasallam. Maka orang itu berkata: ‘Wahai Robbku, apakah artinya bhitoqohseperti ini?’. Maka dikatakan kepadanya: ‘Kamu pada hari ini tidak akan dizholimi.’ Kemudian sembilan puluh sembilan lembar catatan tersebut diletakkan dalam satu sisi timbangan dan dalam sisi yang lain, maka bhitoqohitupun lebih berat.” (HR. Tirmidzi dan Hâkim)
6. Tauhid merupakan sebab utama terhapusnya dosa-dosa.
Dalam hadits Qudsi, Alloh Subhanahu Wata’ala berfirman:
((يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ اْلأَرْضِ خَطاَياَ ثُمَّ لَقِيْتَنِي لاَ تُشْرِكْ بِي شَيْئاً لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً))
“Wahai anak cucu Adam, seandainya engkau datang menemui-Ku dengan membawa kesalahan (dosa) sepenuh bumi namun dalam keadaan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatupun (tidak syirik kepada-Ku), niscaya Aku akan menemuimu dengan membawa magfiroh (ampunan) sepenuh bumi pula!” (HR. Tirmidzi)
7. Barangsiapa yang tauhidnya tidak tercemar dengan kesyirikan sedikitpun maka dia termasuk orang-orang yang mendapat hidayah dan keamanan dari AllohSubhanahu Wata’ala. Allah Subhanahu Wata’ala Berfirman :
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencemari keimanan mereka dengan kesyirikan, mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan hidayah.”(QS. al-An'am [6]: 82)
8. Tauhid adalah hak Alloh Subhanahu Wata’ala yang paling besar.
Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallampernah bersabda kepada Mu’adz bin JabalRadhiyallahu ‘Anhu :
(( يَا مُعَاذُ أتَدْرِي ما حَقُّ اللهِ عَلَى العِبَادِ وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ حَقُّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا، وَحَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ أَنْ لاَ يُعَذِّبَ مَنْ لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا ))
“Wahai Muadz, tahukah engkau, apakah hak Alloh atas para hamba-Nya dan apa hak para hamba atas Alloh?' Maka Mu’adz menjawab: ‘Alloh dan Rosul-Nya yang lebih tahu.’ Lalu beliau bersabda: ‘Hak Alloh atas para hamba-Nya adalah hendaknya mereka menyembah kepada-Nya semata dan tidak menyekutukan-Nya, sedangkan hak para hamba terhadap Alloh adalah bahwa Dia tidak akan menyiksa siapa saja yang tidak menyekutukan-Nya’.” (HR. Bukhori dan Muslim)
-Yang pertama kali diserukan para nabi kepada kaumnya adalah tauhid.
Alloh Subhanahu Wata’ala berfirman:
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rosul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Alloh (saja), dan jauhilah Thoghut itu’…” (QS. an-Nahl [16]: 36)
-Tentang Nabi Nuh ‘Alaihi Salam,Alloh Subhanahu Wata’ala berfirman:
“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: "Wahai kaumku sembahlah Alloh, sekali-kali tidak ada ilah bagi kalian selain-Nya." Sesungguhnya aku takut jika kalian ditimpa adzab pada hari yang besar (kiamat).” (QS. al-A’rof [7]: 59)
Demikian pula para nabi dan rosul-Nya yang lain, yang pertama kali mereka serukan adalah tauhid.
أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah Kedua
إِنَّ الْحَمْدَلِلَّهِ، نَحْمَدَهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئاَتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
Dari paparan di atas, sangat jelas sekali demikian agung dan pentingnya kedudukan tauhid dalam Islam dan demikian sangat berbahaya pelanggarannya, yaitu syirik. Bahkan seluruh ritual peribadatan dalam Islam adalah realisasi dari tauhid itu sendiri, dan tujuannya pun harus tauhid!
Jika tidak demikian, maka sia-sialah seluruh peribadatan tersebut! Na’udzubillah!
Demikianlah khutbah pada kesempatan hari ini. Mudah-mudahan kita bisa mengambil manfaatnya dan mampu meninggalkan dunia sihir yang sarat penuh dengan kekufuran dan kesyirikan kepada Alloh Subhanahu Wata’ala .
إنّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِي يَأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَّجِيْدٌ وَ بَارِكْ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَّجِيْدٌ
رَبَّناَ اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْواَنِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِي قُلُوْبِنَا غِلاَّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ
رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَآ إِن نَّسِينَآ أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَآ إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَطَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَآ أَنتَ مَوْلاَنَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
وَآخِرُ دَعْوَانَا الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
Langganan:
Postingan (Atom)